HOME | SHOP | TOOLBAR | RADIO | SIGN UP | LOG IN | GAMES | VIDEOS | CLUBS | BLOGS | LAYOUTS | BROWSE | SEARCH | INVITE | HELP  
 tentang hidup   
  tentang hidup atau tentang perasaan
apa arti kehidupan
Gibran merefleksikan makna kehidupantidak berangkat dari sebuah mimpi atau hasil imajinasi, tetapi dari problem-problem nyata; pengalaman yang secara nyata dihadapinya sendiri dan oleh seluruh umat manusia. Gibran menguraikan kenyataan-kenyataan hidup dengan jernih, dipertanyakan dengan lembut kadang dibongkarnya dengan marah.

Kenyataan-kenyataan itu dicerna dan ditemukan jawabannya. Visi dasar yang dibangun Gibran dari pencarian ini adalah menemukan makna terdalam dari kehidupan itu sendiri. Gibran melihat bahwa sebenarnya kenyataan-kenyatan itu tidak saling terpisah dan berdiri sendiri. Kenyataan-kenyataan itu, kendatipun memiliki keunikannya masing-masing, bagi Gibran sebenarnya memiliki satu kesatuan yang utuh dan tak terpisahkan.

Kenyataan-kenyataan itu menjulur bagai akar serabut dari satu pohon yang sama. Menemukan mana sumber akar-akar itu berasal, kenyataan-kenyataan itu menyembul ke permukaan pengalaman, Gibran menganjurkan kita untuk terlibat dan melibatkan diri agar menyatu di dalam kenyataan-kenyataan itu. Menyatu dengan kenyataan hidup berarti sadar bahwa kenyataan-kenyataan itu menjadi bagian dari kehidupan manusia itu sendiri.

Dengan demikian kenyataan hidup yang dicerna sedemikian mendalamnya oleh Gibran menunjukkan bahwa manusia sejatinya bukanlah pribadi yang harus melarikan diri dari kenyataan, melainkan justru terlibat di dalamnya secara mendalam. Dalam keterlibatan yang mendalam dengan kenyataan-kenyataan itulah Gibran dituntut serentak menuntut kita semua untuk tidak hanya merasa, tetapi juga berpikir, membongkar, merancang dan mencipta serta menemukan apa yang sesungguhnya menjadi makna dan dasar kehidupan manusia.

Dalam Taman Sang Nabi, ketika kapal merapat di tepian pelabuhan, salah seorang murid bertanya tentang arti kehidupan, dan Al-Mustafa menjawab:

"Kehidupan itu bersifat dalam, tinggi dan jauh, hanya wawasan luas dan bebas yang dapat menyentuh kakinya, meski sebenarnya dia dekat. Walaupun nafasmu hanya mampu menghembus hatinya, namun bayangan dari bayanganmu akan melintasi wajahnya. Dan dari rintihan yang paling halus, akan menjelma musim semi dan musim gugur.

Kehidupan berkerudung bercadar terselubung, seperti diri kalian yang sejati tersembunyi di balik tabir-tabir. Namun bila berbicara maka sergapan angin akan menjadi kata-kata, dan bila berbicara lagi maka senyuman bibir dan tetesan air matamu juga akan menjelma menjadi kata-kata yang penuh dengan makna. Jika dia bendendang, si tuli akan mendengar dan terpana. Dan bila ia menghampiri, si buta pun akan melihat dan terpesona." (hal. 114)

Gibran menggambarkan kehidupan manusia sebagai sebuah pencarian tanpa henti. Pencarian yang diupayakan secara terus-menerus, melibatkan seluruh kemampuannya sebagai manusia, dengan segenap jiwa dan raga, akal dan perasaannya. Pencarian mengandaikan adanya perjuangan, karena makna atau arti kehidupan itu tidak dijumpai tanpa diusahakan dan diperjuangkan, walaupun apa yang dicari sesungguhnya ada dalam pengalaman hidup kita setiap hari.

Pencarian seperti yang digambarkan Gibran sebetulnya merupakan sebuah paradoks. Gibran melukiskan bahwa kehidupan itu bersifat tinggi, jauh dan luas, dengan demikian ia mesti dikejar dan dijumpai, tapi serentak itu pula ia dekat, intim dan menyatu dengan manusia, sehingga kehadirannya tidak disadari. Membuka paradoks tersebut manusia dituntut untuk membuka kerudung bercadar yang menyelubunginya. Artinya setiap kenyataan yang dialami manusia dihadapi dengan sungguh, dibedah dan dimaknai. Dalam pandangan Gibran menyingkapi selubung kehidupan itu berarti menyingkapi diri kita sendiri, yakni menemukan eksistensinya sebagai manusia.

Eksistensi yang diyakini dan dipahami bukanlah suatu struktur definitif dan a priori sebagai mana dipahami oleh orang-orang yang pasrah pada nasib. Manusia bebas merefleksikan situasi yang ada sekarang dari sudut padang sejarah dan menyadari sebagai pelaku sejarah yang mempunyai dimensi sosial dan spiritual. Menyadari diri sebagai pelaku sejarah berarti manusia sepenuhnya terlibat dalam sejarah itu sendiri

Posted: 12/18/2007 at 08:07Read 74 times | 0 comments | Leave Comment 
  gugun 
23 years old
Male
Medan, Indonesia
Hometown: medan


Last Login: 9/8/2008

Purchase gugun
View My: Blog | Pictures | Videos | Layouts
  SUBSCRIBE
  USER OPTIONS
  RECENT BLOG ENTRIES
apa arti kehidupan
  BLOG ARCHIVES
2007
October December

HOME | PRIVACY POLICY | TERMS OF SERVICE | REPORT CONTENT | CONTACT YUWIE | SPAM
©2007-2009 Yuwie.com