| Gibran merefleksikan makna
kehidupantidak berangkat dari sebuah mimpi atau hasil imajinasi, tetapi
dari problem-problem nyata; pengalaman yang secara nyata dihadapinya
sendiri dan oleh seluruh umat manusia. Gibran menguraikan
kenyataan-kenyataan hidup dengan jernih, dipertanyakan dengan lembut
kadang dibongkarnya dengan marah. Kenyataan-kenyataan itu dicerna
dan ditemukan jawabannya. Visi dasar yang dibangun Gibran dari
pencarian ini adalah menemukan makna terdalam dari kehidupan itu
sendiri. Gibran melihat bahwa sebenarnya kenyataan-kenyatan itu tidak
saling terpisah dan berdiri sendiri. Kenyataan-kenyataan itu,
kendatipun memiliki keunikannya masing-masing, bagi Gibran sebenarnya
memiliki satu kesatuan yang utuh dan tak terpisahkan. Kenyataan-kenyataan
itu menjulur bagai akar serabut dari satu pohon yang sama. Menemukan
mana sumber akar-akar itu berasal, kenyataan-kenyataan itu menyembul ke
permukaan pengalaman, Gibran menganjurkan kita untuk terlibat dan
melibatkan diri agar menyatu di dalam kenyataan-kenyataan itu. Menyatu
dengan kenyataan hidup berarti sadar bahwa kenyataan-kenyataan itu
menjadi bagian dari kehidupan manusia itu sendiri. Dengan
demikian kenyataan hidup yang dicerna sedemikian mendalamnya oleh
Gibran menunjukkan bahwa manusia sejatinya bukanlah pribadi yang harus
melarikan diri dari kenyataan, melainkan justru terlibat di dalamnya
secara mendalam. Dalam keterlibatan yang mendalam dengan
kenyataan-kenyataan itulah Gibran dituntut serentak menuntut kita semua
untuk tidak hanya merasa, tetapi juga berpikir, membongkar, merancang
dan mencipta serta menemukan apa yang sesungguhnya menjadi makna dan
dasar kehidupan manusia. Dalam Taman Sang Nabi, ketika kapal merapat di tepian pelabuhan, salah seorang murid bertanya tentang arti kehidupan, dan Al-Mustafa menjawab: "Kehidupan
itu bersifat dalam, tinggi dan jauh, hanya wawasan luas dan bebas yang
dapat menyentuh kakinya, meski sebenarnya dia dekat. Walaupun nafasmu
hanya mampu menghembus hatinya, namun bayangan dari bayanganmu akan
melintasi wajahnya. Dan dari rintihan yang paling halus, akan menjelma
musim semi dan musim gugur. Kehidupan berkerudung
bercadar terselubung, seperti diri kalian yang sejati tersembunyi di
balik tabir-tabir. Namun bila berbicara maka sergapan angin akan
menjadi kata-kata, dan bila berbicara lagi maka senyuman bibir dan
tetesan air matamu juga akan menjelma menjadi kata-kata yang penuh
dengan makna. Jika dia bendendang, si tuli akan mendengar dan terpana.
Dan bila ia menghampiri, si buta pun akan melihat dan terpesona." (hal. 114) Gibran
menggambarkan kehidupan manusia sebagai sebuah pencarian tanpa henti.
Pencarian yang diupayakan secara terus-menerus, melibatkan seluruh
kemampuannya sebagai manusia, dengan segenap jiwa dan raga, akal dan
perasaannya. Pencarian mengandaikan adanya perjuangan, karena makna
atau arti kehidupan itu tidak dijumpai tanpa diusahakan dan
diperjuangkan, walaupun apa yang dicari sesungguhnya ada dalam
pengalaman hidup kita setiap hari. Pencarian seperti yang
digambarkan Gibran sebetulnya merupakan sebuah paradoks. Gibran
melukiskan bahwa kehidupan itu bersifat tinggi, jauh dan luas, dengan
demikian ia mesti dikejar dan dijumpai, tapi serentak itu pula ia
dekat, intim dan menyatu dengan manusia, sehingga kehadirannya tidak
disadari. Membuka paradoks tersebut manusia dituntut untuk membuka
kerudung bercadar yang menyelubunginya. Artinya setiap kenyataan yang
dialami manusia dihadapi dengan sungguh, dibedah dan dimaknai. Dalam
pandangan Gibran menyingkapi selubung kehidupan itu berarti menyingkapi
diri kita sendiri, yakni menemukan eksistensinya sebagai manusia. Eksistensi yang diyakini dan dipahami bukanlah suatu struktur definitif dan a priori
sebagai mana dipahami oleh orang-orang yang pasrah pada nasib. Manusia
bebas merefleksikan situasi yang ada sekarang dari sudut padang sejarah
dan menyadari sebagai pelaku sejarah yang mempunyai dimensi sosial dan
spiritual. Menyadari diri sebagai pelaku sejarah berarti manusia
sepenuhnya terlibat dalam sejarah itu sendiri |